Follow us

Asallamualikum, Wr.Wb terima kasih telah berkunjung di blog saya, semoga blog ini bermanfaat bagi anda sebagi pelajar atau mahasiswa yang membutuhkan materi pembelajaran. Penulis sadar masih banyak kekurangan dari semua ini, untuk itu mohon saran dan komentarnya agar penulis lebih baik lagi. Terima kasih, Ari Setiadi

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 04 April 2014

Cerpen, CINTA PUTIH



“CINTA INI HANYA UNTUK ISTRI”
Pengarang: Arie Setiadi

Siang itu hujan masih mengguyur kota Cimahi. Nampak jalan-jalan yang melingakari kota itu tergenang air. Kendaraan roda dua terlihat menepi di pinggir-pinggir toko di sepanjang jalan Cimahi. Namun untuk kendaraan roda empat nampaknya hujan tidak menjadi hambatan untuk terus melajukan putaran rodanya.
            Dari kejauhan terlihat mobil BMW 102 hitam memecah air yang menggenang jalanan yang mengarah ke gerbang kampus STKIP Siliwangi Bandung. Suara klaksonnya berbunyi nyaring sebagai pertanda meeminta gerbang dibuka. Beberapa saat mobil telah melewati pos satpam di depan gerbang dan parkir dii halaman gedung dosen Jurusan Sastra Indonesia.
            Dari dalam mobil itu, keluarlah seorang gadis cantik dengan terburu-buru dan setengah berlari menghindari derasnya hujan yang dapat membuat pakaiannya basah. Gadis itu adalah Doktor Chandrika Julia Tantri, M.Sc. Dosen Muda yang mendapatkan gelar Doktor di luar negeri. Layaknya seorang pemikir atau akademisi yang identik dengan pakaian culun, baku, serius atau cufu, tetapi tidak untuk Doktor Chandrika. Doktor Chandrika sangat memperhatikan penampilannya. Dari cara berpakaian, dan penampilannya  dia sangat teliti. Selain cerdas ia dianugrahi wajah rupawan. Sehingga tak jarang Doktor muda ini banyak mendapatkan perhatian dari kalangan Dosen ataupun mahasiswanya. Namun entah kenapa Doktor ini belum juga mendapatkan jodohnya. Kalau alasannya tidak ada pria yang mendekatinya, tidak masuk akal. Namun, kalau alasannya banyak pria yang ditolak masih bisa diterima. Tetapi apa alasannya menolak? Belum ada yang cocok kah? Atau apa? Hanya hatinya yang tahu.
****
Satu minggu Aries tidak ke kekampus STKIP Siliwangi untuk melakukan penelitian tesisnya. Ia  marah dan tidak terima atas perlakuan semena-mena Doktor Chandrika saat selesai seminar Sastra waktu Minggu lalu. Perlakuan yang merendahkan serta menjadi suatu musibah baginya.
Saat itu, Aries mengganti salah satu narasumber Sastra, Pak Makmur Sadee karena berhalangan hadir pada seminar Sastra Indonesia itu.  Doktor Chandrika sebagai pembimbing dalam tesisnya memilihnya untuk menggantikan Narasumber Sastra tersebut, karena wawasan sastra Aries sangat bagus menurutnya. Ditambah Aries sangat begitu menyukai dan begitu mendalami Sastra dari apa yang dipaparkan Arie, saat ia bertanya tentang Keilmuan Sastra, dan Aries menjelaskannya begitu dalam sehingga membuat Doktor Chandrika kagum padanya. Dan hal ini yang membuat Doktor Chandrika meminta Arie menggantikan salah satu narasumber Sastra itu.
Aries menjadi pembicara terakhir di acara itu. Karena hanya ia yang belum bergelar Doktor diantara narasumber yang lainya. Dalam pemaparan yang ia sampaikan, lebih dalam dan juga lebih mudah dipahami oleh para pendengar di Aula kampus itu. Dari beberapa narasumber yang lebih dulu berbicara, ia menyampaikan dengan bahasa yang sangat akrab ditelinga para pendengarnya. Riuh tepuk tangan bergemuruh untuknya, disela-sela jeda bicaranya, sampai diakhir pembicaraan gemuruh tepuk tangan terus terdengar. Sampai-sampai Doktor Chandrika terlihat memberikan standing aplause padanya. Wajah Doktor Chandrika terlihat paling binar saat itu. Rasa kagum dari dalam maupun dari luar tak sempat dan tak bisa ia sembunyikan kepada mahasiswa bimbingannya, Aries.
Karena rasa kagum dan bangga yang berlebih, Doktor Chandrika tak dapat mengendalikan jiwanya untuk memberikan sesuatu  yang belum pernah ia berikan pada lelaki manapun,  menurutnya adalah suatu ungkapan rasa kagumnya pada Aries. Sampai terjadilah kejadian itu. Aries tak sempat mengelak dari terjangan Doktor Chandrika yang mendaratkan ciuman di pipinya.  Doktor Chandrika tampak bahagia setelah melakukan hal itu. Sebaliknya, Aries tertunduk kaku. Wajahnya merah padam. Kemarahan dalam hati menguasainya. Mengapa ia tak bisa mengelaknya saat itu.
****

Doktor Chandrika siang itu terlihat mondar-mandir di ruang kerjanya. Ada suatu hal yang membuatnya resah. Sudah lebih dari satu minggu Aries tidak ke STKIP Siliwangi untuk melanjutkan penelitiannya. Apakah ia sakit? Apa ia sudah kembali pulang? Apa ia ada kegiatan lain? Apa sudah selesaikah penelitiannya, tapi? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu bergiliran masuk dalam benaknya.
“ Apa mungkin ia malu menemuiku, karena waktu itu? “ ia terus bergumam dalam hatinya.
“Aku melakukannya dengan sepenuh hati, jadi aku yakin ia pasti merasakan ketulusanku. Karena pada dasarnya, apapun yang dilakukan dengan sepenuh hati pasti akan dirasakan oleh hati. Begitupun pada Aries”.
 “ Tapi mengapa selama ini? Teleponnya gak aktif, sms ku juga tidak ia balas. Ach!!!” Doktor Chandrika nampak mulai kesal dari apa yang sedang menimpa dirinya. Mungkinkah ia benar-benar telah jatuh hati secara diam-diam pada Aries.
Dari peningkatan perubahan sikapnya selama ini, ia betul-betul yakin saat ini ia telah jatuh hati. Jatuh hati pada mahasiswa bimbingannya, Aries. Hal yang belum pernah ia rasakan saat berhadapan dengan beberapa pria sebelumnya.
Aries adalah pria yang berbeda. Dari wajah, Aries tidak ganteng juga tidak jelek. Banyak pria kenalannya yang ganteng, kaya lagi. Dari kekayaan, Aries hanya mahasiswa S2 yang meraih beasiswa, yang bisa dipastikan ia serba pas-pasan. Dari semangatnya belajar, intelektual, dan kepribadiannyalah ia dapat membedakan Arie dengan pria lainnya yang ia kenal. Aries cerdas tapi ia juga punya kepribadian baik. Ahlak adalah salah satu sifat dan sikap yang mulai luntur dikalangan para intelek saat ini. Mungkin Cuma itu yang lihat saat ini dari Aries.

Doktor Chandrika sudah mengambil keputusan bulat, jika sampai sore Aries tidak juga memberi kabar dan tidak juga datang, ia akan  mendatangi kosan Arie. Jika bertemu di sana, dia bersyukur. Jika ternyata Arie tidak ada di kosannya, ia akan menunggu sampai Aries pulang.
" Doktor Chandrika, apa kabar?" Seseorang menyapanya. Karena kedua matanya tertuju sepenuhnya pada layar laptop, dan pikirannya mengembara ke mana-mana, Chandrika sama sekali tidak sadar kalau ada seseorang memasuki ruangan itu dan kini orang itu telah berdiri tak jauh di hadapannya. Doktor Chandrika mengangkat pandangannya dan ia terkesima seketika.
"Oh kau!" Kata Doktor Chandrika setengah tidak percaya.
"Ya. Kenapa Doktor seperti kaget begitu?" Jawab orang itu dengan tenang, yang tak lain adalah Arie Setiadi.
"Aku kira kau tidak akan datang lagi? Aku kira kau sudah pulang ke kampungmu  ?" Doktor Chandrika menjawab sekenanya.
"Di mana saja kau selama ini? Kau tidak memberi kabar, tidak sms, juga tidak menelpon.
Ditelpon tidak bisa, disms tidak dibalas. Ada apa denganmu?" Lanjut Chandrika sambil bangkit dari tempat duduknya. Doktor muda itu nampak bahagia dengan kedatangan Aries.
"Maafkan saya Doktor, agak lama saya tidak memberi kabar, saya ada sedikit masalah."
"Masalah apa?"
"Saya sedang marah kepada seseorang."
"Marah kepada seseorang? Apa hubungannya dengan kehadiranmu ke sini?"
"Sangat berhubungan. Sebab, terus terang saja, saya marah pada Anda, Doktor?"
"Marah pada saya? Apa yang saya lakukan sehingga membuatmu marah?"
"Anda telah berlaku tidak patut pada saya."
"Apa itu? Saya tidak paham."
"Anda telah mencium  saya dengan semena-semena."
"Jadi karena ciuman itu?!" Doktor Chandrika kaget.
"Ya."
"Itu biasa saja. Aku pikir kau suka."
"Aku tidak mau mendapat ciuman dari perempuan yang tidak halal bagi saya. Anda bukan siapa-siapa saya. Bukan ibu saya, bukan kakak saya, dan bukan adik saya. Anda tidak halal bagi saya. Anda tidak boleh mencium saya. Dan saya tidak boleh mencium Anda. Kalau Anda mencium saya atau saya mencium Anda, kita telah menodai kesucian diri kita. Kita telah melakukan dosa. Itu ajaran agama saya."
"Kalau istri mencium suaminya?"
"Boleh. Halal. Bahkan mendatangkan pahala dari Tuhan."
"Maafkan aku kalau begitu. Aku tidak tahu. Aku tidak akan mengulanginya, kecuali nanti kalau aku suatu saat halal bagimu." Kata Doktor Chandrika pelan.
Hati Aries bergetar mendengar kata-kata Doktor Chandrika. Kalimat terakhirlah yang membuat hatinya bergetar. Seolah doktor         cantik itu berharap, suatu saat akan menjadi perempuan yang halal baginya.
"Baiklah. Kita lupakan saja yang sudah berlalu. Semoga ini tidak terjadi lagi” Aries menutup pembicaraan.
Keadaan menjadi hening. Ke duanya saling terdiam. Doktor Chandrika menundukan wajahnya, masih merasa menyesal. Ia memang berbeda keyakinan dengan Aries yang Muslim. Setidaknya ia dapat pelajaran yang berarti dari kejadian itu, yang tidak ada dalam ajaran agamanya. Hal itu sudah diangap biasa. Seketika Chandrika memecah keheningan itu.
“Bo,boleh saya bertanya?”
“Boleh Bu, Kalau saya dapat menjawabnya, Insyaallah” Aries mempersilahkan.
“Kamu sudah punya pacar? Ehh,,, anuu... calon istri maksudnya”
“kalau Calon dulu saya pernah tunangan dengan seorang gadis di desa saya. Tapi, ia telah membebaskan saya, karena saya harus melanjutkan kuliah selama 2 tahun lebih”
“Kalau begitu kamu batal tunangannya, apa dia sudah menikah sekarang?” dari lubuk hati paling dalam ia berharap-harap cemas terhadap jawaban nanti yang akan Aries katakan.
“Aku tidak tahu, apakah dia sudah menikah atau masih menunggu aku bu.”
            “O”. Hanya “O” yang terlontar dari mulut Doktor Chandrika.
            “emmm,, kamu mencintainya?” Doktor Chandrika melanjutkan.
            “Tidak.”
Doktor Chandrika tersentak. Kaget atau gembira atau apa yang dirasakannya dari perkataan yang ia dengar dari Aries.
            “ke,kenapa?” Doktor Chandrika kembali melanjutkan dengan suara pelan.
            “Bu, saya hanya akan mencintai wanita yang telah jadi istri saya. Saya akan melimpahkan seluruh rasa cinta dan kasih dengan segenap jiwa ini hanya pada istri saya nanti. Saya akan memberikan cinta dan kebahagian hanya pada istri saya kelak. Bukan yang lain. Itulah kenapa saya tidak mencintainya, karena ia belum halal bagi saya.”
           
Mendengar jawaban itu, Doktor Chandrika tertunduk. Ia terdiam kaku. Suasana menjadi hening kembali. Ucapan yang telah Arie katakan telah menotok seluruh sarafnya sehingga ia tidak mampu mengerakan anggota tubuhnya. Tiba-tiba air menetes dari matanya yang terjatuh menabrak lantai dibawah wajahnya yang kini tertunduk.
            Seumur hudup, baru kali pertama ia mendengar ucapan tersebut dari mulut seorang lelaki.  Ucapan itu menghujam hatinya. Ucapan yang hanya dapat di ucapkan oleh pria yang mempunyai cinta sejati. Cinta yang akan membawanya ketika hidup sampai ia mati. Terdengar begitu tulus ucapan itu dari mulut Aries. Dalam lubuk hatinya, Ia kini hanya berharap Tuhan memberikan kesempatan padanya untuk mendapatkan cinta itu. Yah, mendapatkan cinta itu.

Tetapi perbedaan keyakinan antara ia dengan Aries, membuatnya sedikit kecewa. Andai saja ada pria seperti Aries yang agama dan keyakinannya sama dengannya? Tapi, sampai saat ini ia belum menemukannya.
Di sisi lain, Aries merasakan ada keanehan dari sikap Doktor Chandrika selama ini. Ia tahu, kadang ia berfikiran apakah Doktor Chandrika menyimpan perasaan padanya? “Astagfirulloh,, ia segera mengusap wajahnya, membuang pikiran itu jauh-jauh. Dan memohon perlindungan Allah dari nafsu yang dapat menjerumuskannya”
Doktor Chandrika memecah kehenginan kembali. Dengan menutup matanya ia seperti memaksakan suatu ucapan dari mulutnya yang kini terasa berat untuk berucap.
“hm,, an,,andai saja. a aku bisa menjadi. Hmmm.. istrimu, senangnya hatiku”
Petir seperti menyambar ubun-ubun Aries, ketika ia mendengar apa yang Doktor Chandrika katakan. Ia terperanjat. Seakan tak percaya dari apa yang telah ia dengar dari mulut seorang Doktor Muda nan cantik dan cerdas itu. Kini ia telah kebingungan, gilirannya kini yang dibuat terpaku dan dibuatnya tak bergerak. Seolah seluruh urat syarafnya terhenti saat mendengar itu.  Ia sesungguhnya bahagia mendengar itu, tetapi ada sesuatu yang masih menghalanginya untuk menerima kebahagian itu.
Ingin sekali ia mengatakan “iya” tapi ia tidak yakin dengan itu. Jika ia katakan “tidak”, masih. Ia masih tidak yakin. Pikiran dan hatinya kini terbalut dengan ketidakyakinan. Terus berpikir dan mecari apa yang dapat membuatnya yakin untuk menjawab perkataan Doktor Chandrika.
Apakah itu?
Hanya Tuhan yang tahu isi hatinya.

=============================================================

Bersambung ...Serrial 2

Jumat, 28 Maret 2014

CONTOH ESAI tentang Karya Ilmiah Sampah

MEMBUAT KERAJINAN TANGAN MENGGUNAKAN BAHAN DASAR SAMPAH
(Dengan BANK Sampah Menjadikan Sampah Bernilai Estetis dan Ekonomis)
Oleh : Ari Setiadi


Sampah adalah suatu barang yang sudah tidak terpakai lagi atau tidak digunakan lagi. Sampah sering kali menjadi gangguan bagi kehiduan manusia. Bukan hanya karena masalah terganggunya keindahan tempat tinggal yang kita diami, atau seringnya sampah menyumbat saluran air, melainkan kerapnya berbagai macam penyakit  menyerang manusia yang diakibatkan dari lemahnya penanganan sampah itu sendiri.
Sampah selama ini sering menjadi sosok menakutkan atau bahkan bisa dikatakan musuh bagi kelangsungan hidup manusia. Karena itu sampah ingin dijauhkan, sejauh mungkin dari kehidupan kita. Padahal yang menciptakan sampah itu sendiri adalah manusia. Namun, kenyataannya memang seperti itu. Hasil dari proses kehidupan manusia menghasilkan apa yang dinamakan dengan sampah. Jadi, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa sampah merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Masalahnya adalah manusia kerap dibuat kebingungan mengatasi sampah yang semakin menumpuk , ditambah lagi terbatasnya lahan Tempat Pembuangan Sampah di tempat mereka tinggal.
Sekarang  ini telah banyak teknologi untuk mengelola bahkan memusnahkan sampah.  Namun, sudah tidak jamannya lagi sampah dimusnahkan atau dijauhkan dari kehidupan manusia.  Sampah dapat kita sulap menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis dan bernilai estetis. Salah satunya adalah dengan diadakannya BANK Sampah.
Pengelolaan sampah di SMP Muslimin saat ini menjadi masalah utama yang harus ditangani. Maka sebuah penelitian saya lakukan untuk  menguji cobakan pemanfaatan sampah menjadi sebuah bentuk kerajinan dan apakah BANK Sampah yang telah ada mampu mengatasi sampah di SMP Muslimin Cililin?

Jenis-jenis Sampah
Sampah itu sendiri terbagi menjadi beberapa jenis. Diantaranya akan saya paparkan di bawah ini.
1.         Sampah Organik
Sampah organik adalah sampah yang dapat di urai dan juga sampah yang dapat membusuk secara alami. Sampah ini termasuk jenis sampah basah yang dapat di olah menjadi pupuk kompos. Contoh sampah organik adalah sisa makanan, sayuran, dedaunan dan sebagainya.
Sampah jenis ini dapat terurai secara alami. Melalui berbagai proses penguraian kemudian akan kembali menyatu dengan tanah. Namun jika di olah menjadi kompos maka akan lebih berguna.

2.        Sampah Anorganik
Sampah ini berbeda dengan sampah organik. Sampah ini adalah sampah yang tidak dapat terurai dengan cepat, diperlukan waktu beribu-ribu tahun agar sampah jenis ini bisa terurai.
Bahan jenis ini terbuat dari bahan kering seperti plastik, besi, karet dan sebagainya. Sampah jenis ini dapat di olah menjadi barang yang dapat digunakan kembali. Bahkan, jika dikelola atau dengan cara daur ulang akan memberi keuntungan secara materil pada pengelolanya. Adapun barang hasil dari daur ulang sampah anorganik seperti alat-alat rumah tangga, hiasan dinding, dan berbagai macam kerajinan lainnya.

3.        Sampah Berbahaya
Sampah berbahaya adalah sampah yang beracun atau limbah dari bahan-bahan berbahaya seperti limbah rumah sakit, limbah pabrik dan lain-lain.

  Manfaat Sampah
Untuk merubah sampah agar dapat menjadi manfaat, diperlukan cara untuk mengelolanya dengan baik. Adapun cara tersebut adalah sebagai berikut.
1.         Mengurangi (Reduce)
Cara ini adalah meminimalisir barang-barang yang kita gunakan, agar sampah yang kita hasilkan juga berkurang. Contohnya meminimalisir penggunaan kantong  plastik untuk membawa barang belanjaan.
2.         Menggunakan kembali (Reuse)
Agar dapat meminimalkan sampah maka pilihlah barang-barang yang sekiranya dapat atau masih bisa digunakan kembali.
3.         Mendaur ulang (Recycle)
Untuk meminimalkan sampah, maka gunakanlah barang-barang yang dapat didaur ulang. Misalkan plastik-plastik bekas dapat kita daur menjadi hiasan, pas bunga, dan kerajinan lainnya.


4.         Mengganti (Replace)
Untuk meminimalkan sampah maka kita harus mengganti barang-barang yang tidak ramah lingkungan atau hanya sekali pakai menjadi barang-barang yang lebih tahan lama dan juga ramah lingkungan.

BANK Sampah
Untuk dapat memanfaatkan sampah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, tentunya kita harus mengumpulkan sampah terlebih dahulu. Setelah terkumpul kita pilah berbagai jenis sampah tersebut ke dalam jenisnya. Untuk itu diperlukan sebuah program yang mampu melakukan hal tersebut. Salah satunya adalah Program Bank Sampah.
Bank Sampah adalah sebuah program yang mampu mengumpulkan sampah dan mampu memberi keuntungan secara materil dari ke dua belah pihak, baik dari pihak penyetor maupun pengelola itu sendiri. Di SMP Muslimin Bank Sampah dikelola oleh OSIS. Setiap kelas yang menyetorkan sampahnya dihitung perkilo berdasarkan jenisnya dan ditukar dengan nilai rupiah yang nantinya dijadikan uang kas.  
Karena semua jenis sampah terkumpul di Bank Sampah, maka mudah untuk memilih sampah mana yang akan dimanfaatkan sesuai dengan tujuan. Kita pilih sampah mana yang akan dijadikan sebagai bahan dasar dari kerajinan yang akan kita buat.

Membuat Taplak Meja
Pada penelitian ini, akan saya jelaskan memanfaatkan sampah bekas minuman sachet menjadi sebuah kerajinan taplak meja. Alat, bahan dan cara membuat di antaranya:
A.    Alat dan Bahan
1.      Gunting
2.      Kemasan bekas minuman sachet
B.     Cara membuat
-          Kemasan dilap dengan kain basah lalu keringkan. Potong kemasan dengan ukuran lebar 5,1 cm dan panjang 6,8 cm dengan tidak membuka kemasan, hanya menggunting bagian bawah dan atas kemasan, lihat pada gambar 3.2.
-          Siapkan kemasan dengan gambar yang sama sejumlah 200 lembar untuk  ukuran taplak meja sedang. Bersihkan dan gunting dengan ukuran yang sama
-          Setelah siap, lipatlah kemasan tersebut dengan lebar 1,7 cm atau sisi 5,1 cm tadi dilipat sebanyak tiga lipatan sehingga bahan akan menjadi ukuran 1,7 cm dan panjang 6,8 cm.
-          Langkah awal, siapkan empat bahan yang sudah dilipat tadi, kemudian dikaitkan satu sama lain sehingga mengikat.
-          Setelah ke empat bahan tadi mengikat tambahkan bahan yang sama di tiap sisinya, mengikat kembali.
-          Sambungkan terus bahan dari tiap sisinya dan bentuklah sesuai keinginan.
Itulah salah satu kerajian dengan menggunakan bahan dasar sampah anorganik yang telah dibuat di SMP Muslimin Cililin.

Simpulan
Dari beberapa aktifitas  penelitian ini, akhirnya dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1.      Sampah terbagi menjadi beberapa jenis diantaranya sampah organik, anorganik, sampah berbahaya.
2.      Dengan Bank Sampah sampah diolah menjadi barang yang bermanfaat yang bernilai estetis dan bernilai ekonomis.
3.      Sampah anorganik dapat dibuat menjadi sebuah kerajinan yang bernilai estetik, salah satunya adalah membuat taplak meja dari bahan bekas minuman sachet.

Kesimpulan di atas menjelaskan bahwa sampah bukan lagi barang yang harus kita jauhkan dan kita buang begitu saja. Sampah dapat kita olah dengan baik sehingga menjadi barang yang memberi manfaat bagi kita, baik yang bernilai seni maupun yang bernilai materi.


Senin, 17 Maret 2014

NOVEL PERAHU KERTAS, Karya Dee (Dewi Lestari)

download d bawah ini
1. Perahu Kertas (Dewi Lestara)

Rabu, 12 Februari 2014

CARA MEMBUAT WEBSITE SENDIRI DAN GRATIS

Poat by Ari Setiadi, S.Pd

           Cara Membuat Blog Gratis - Mungkin Sobat sedang kebingungan bagaimanacara membuat blog, apakah karena tugas sekolah yang diharuskan murid-muridnya mempunyai blog agar bisa mengikuti latihan dan mengerjakan tugas di blog masing-masing agar mendapat nilai, ataukah ada sebab lain seperti ingin berbagi kisah hidup, kata mutiara, kata bijak, kisah lucu, atau foto lucu supaya dapat diketahui oleh khalayak umum, ataupun Sobat ingin membuat blog karena ada teman yang bisa mendapatkan penghasilan dari blog.
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhyiWW3lpttV8rEWwAPvD1ssIb7AcyrJBoN8MNLoHW3xPuwz4m8tzLJUNlopMmCgNsufYjpfPqce3WxQxM_dfkXdSx0edILKAgylzLk6TE_P5WaxZhp1HEtRGLdJWItt5BdaAfv_YNKYR_n/s200/blogger.jpg
        Blog pada dasarnya disebut sebagai Web Blog yang merupakan salah satu aplikasi web yang mana postingan atau artikel yang diposting didalam blog sering sekali berurutan, yaitu dari tulisan terbaru hingga tulisan yang paling lama.

         Kenapa harus di blogger / blogspot? Karena di situs tersebut kita dapat membuat blog secara gratis dan juga telah bekerja sama denganGoogle, jadi blog yang dibuat Sobat TerbaruX bisa tampil blognya di mesin pencari Google. Dan di Blogger.com tamilannya sangat simple untuk yang masih awam atau yang masih pemula serta mudah untuk di otak - atik seperti ganti template atau background blog, menambah widget seperti kalender, jam dinding, dsb

Cara Membuat Blog

A.    Masuk ke Blogger ,sama halnya seperti daftar Facebook, di blogger juga harus mempunyai email Gmail terlebih dahulu, yang belum mempunyai email Gmail, harap membuat dulu. Untuk mendaftar, silakan isikan nama email Gmail beserta passwordnya, sama seperti log in ke gmail.com . Setelah itu klik Sign In





Cara Mudah Membuat Blog
B.     Setelah itu Sobat akan dibawa ke tampila seperti ini, Sobat tinggal klik Buat Blog Baru




Gbr. 2 Cara Membuat Blog
          Nanti akan ada menu melayang seperti gambar dibawah ini. Isikan Judul dan  Alamat blog dengan nama blog sesuai keinginan Sobat, dan Apabila Sudah diisi alamat blognya maka nanti ada tulisan dibawahnya Alamat blog ini tersedia, kalau tidak sobat bisa mengganti nama blog yang lainnya seperti namablog999 atau terserah sobat. Nah, apabila sudah kini tinggal memilih template atau tampilan blog, pilih sesuai selera Sobat. Untuk template bisa dirubah lagi jadi pilih kalau merasa tidak ada yang bagus, pilih sembarang saja.

Gbr. 3 Cara Membuat Blog di Blogspot
C.     Setelah selesai, Selamat blog Sobat sudah jadi, tinggal klik Mulai mengeposkan untuk membuat artikel terbaru bagi blog Sobat atau klik gambar pensilnya. 

Gbr. 4 Cara Mudah Membuat Blog
         Nanti akan tampil seperti gambar dibawah ini, tinggal ikuti sesuai petunjuknya karena sama dengan menulis di Ms.Word, setelah selesai membuat artikel tinggal klik Publikasikan




Gbr. 5 Cara  Membuat Blog


       Itulah langkah-langkah mengenai cara membuat blog gratis dan mudah di blogspot. Semoga tulisan ini bisa membantu anda bagi yang mau membuat blog gratis dan bisa mempunyai blog di blogspot.

Minggu, 26 Januari 2014

"Hadiah Terakhir Dari Sang Ayah" Kisah Sedih Mengharukan

Karya Ari Setiadi. Revisi dari cerpen Harist




Di sebuah perumahan terkenal di Bandung, tinggalah seorang gadis bersama sang ayah. Mereka hidup berdua sejak saat sang ibu di panggil Sang Pencipta. Kejadian itu telah lama ketika Risha masih kecil. Ia kini menjalani hidup berdua dengan ayahnya yang bernama Pak Munajat.

Suatu  hari Risha akan di wisuda. Ia kini  telah menyelasaikan kuliahnya dan sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana Administrasi Perbankan. Akhir dari jerih payahnya selama beberapa tahun di bangku pendidikan kini telah menuai hasil.

Risha ingat, ketika ayahnya berkata jika ia telah lulus. Ia boleh meminta apapun dari ayahnya. Pak munajat begitu mencintainya, terlebih Pak Munajat tidak punya siapa-siapa lagi selain anaknya. Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport, keluaran terbaru dari Ford. Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya karena ia memang pernah menintanya. Risha juga  yakin, karena dia anak satu-satunya dan ayahnya begitu sayang padanya, sehingga dia yakin mobikl itu akan ia miliki.

Diapun ber'angan-angan mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan teman-temannya, bahkan semua mimpinya itu dia ceritakan ke teman-temannya. Seperti kebanyakan orang ia ingin menunjukan mobil barunya itu pada teman-temannya sehingga banyak yang memujinya.

Sampai saatnya tiba. Setelah selesai di wisuda ia segera bergegas melangkah  pasti ke arah ayahnya. Pak Munajat tersenyum dengan berlinang air mata karena  terharu melihat keberhasilan anaknya, apalagi Risha menjadi sarjana terbaik di fakultasnya.  Dalam hati Pak Munajat  mengungkapkan betapa dia bangga akan putrinya, dan betapa dia mencintai Risha.

Berselang kemudian Pak Munajat mengeluarkan sebuah bingkisan berbungkus kertas kado warna hijau. Bingkisan yang ia pegangi selama proses wisuda berjalan dan kini telah selesai. Ia tak memberi tahu apa isi bingkisan itu pada Risha. Kemudian Pak Munajat memberikannya pada Risha dan Risha menerimanya dengan bingar senyum penuh bahagia.

Ada yang aneh dengan berat dan ukuran isi kado itu. Risha berpikir jika isinya kunci mobil, tidak perlu kado dengan ukuran agak besar itu. Ayah bisa saja memberikan kuncinya langsung. Perlahan ia membuka bingkisan itu. Ternyata dibalik kertas kado itu ia hanya menemukan sebuah Jaket kulit yang bertuliskan namanya dengan bahan bordir. Seketika ia menampakan kekecewaannya terhadap ayahnya. Kemudian, gadis itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia berteriak,
"Yaahh... apa ini yah? Hanya ini? Ayah bohong!
Lalu dia membuang Jaket itu dan lari meninggalkan ayahnya.

Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur, dia hanya berdiri mematung, tak tahu apa yang harus di lakukannya saking kaget melihat respon anaknya yang sampai detik itu tak pernah membentaknya seperti itu.

Tahun berganti tahun, tak terasa sudah 6 tahun Risha pergi meninggalkan ayahnya dengan membawa rasa benci. Sang gadis telah menjadi seorang yang sukses. Dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang wanita karir dan menjadi andalan di perusahaannya. Dia kini mempunyai rumah yang besar dan mewah dan juga suami yang tampan dan anak yang lucu.

Sementara di tempat lain, ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri. Sejak kejadian  itu, Risha  pergi meninggalkannya dan tak pernah kembali atau menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa sayangnya ia padanya. Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari itu ia kini masih diliputi rasa benci.

Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu. Risha disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya. Saat melangkah masuk kerumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih karena berita ini sangat mendadak dan ia tak ada disisi ayahnya ketika sang ayah menghembuskan nafas terakhir dan juga  mengingat semua kenangan semasa dia tinggal disitu. Dia kini sangat menyesal telah bersikap buruk terhadap ayahnya. Tapi semua itu terlambat.

Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang di rumah itu. Ketika ia membuka lemari pakaian ayahnya, dia menemukan Jaket itu, masih terbungkus dengan kertas kado yang sama beberapa tahun yang lalu. Kemudian, sesuatu jatuh dari bagian kantong Jaket itu. Dia memungutnya, ternyata sebuah kunci mobil yang jatuh dari jaket itu. Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan. Dia merogoh lagi kantong sebelahnya dan menemukan sesuatu. Di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, nama Risha tercetak STNK itu. Kemudian menyusul sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisudanya.

Ada perasaan aneh yang menyeruak tiba-tiba dalam hatinya. Nafasnya serasa tertahan di kerongkongan dan dadanya. Tangannya bergetar saat membaca namanya tercantum di STNK itu. Untk memastikan rasa aneh itu ia berlari menuju garasi. Dan ternyata di sana ia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun. Meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu. Mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu.

Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok ke dalam. Bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah poto. Poto ia dan ayahnya saat ia digendong ayahnya sambil tertawa bahagia.

Ia terjatuh. Kedua lututnya roboh. Hatinya hancur, air mata penyesalan keluar dari matanya yang sendu. Ia hanya bisa menangisi dan menatap mobil itu sambil berkatasebuah ucapan sesal. Menyesal ia telah menyia-nyiakannya. Menyesal ia hanya mengikuti kebenciaanya. Yang paling membuatnya merasa bukan manusia adalah ia telah meninggalkan ayahnya hanya karena mobil itu. Mobil yang ternyata adalah benar adanya. Kini ia hanya bisa meratapi dan menangis meraung-raung melihat mobil itu.



Karya Ari Setiadi.

Minggu, 15 Desember 2013

CERPN, UNTUK NANIA


UNTUK NANIA


Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.


***


Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu.
Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak!
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang?
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta?
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya!
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung!
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi
sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

- Asma Nadia -
Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.


***



Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu.
Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak!
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang?
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta?
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya!
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung!
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi
sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "