KAU TETAP SAHABATKU
Karya
Ade Aryani
Pagi
itu sangat cerah, terlihat seorang anak laki-laki dan perempuan berkejaran di sekitar taman. Mereka adalah Gibran dan Namira, dua orang sahabat yang sejak
dari kecil tidak bisa dipisahkan. Setiap hari mereka bersama, bahkan di sekolah teman-temannya
menjuluki mereka dengan sebutan
“Lem & Perangko” tetapi, Gibran dan Namira tidak menghiraukannya karena memang seperti itu kenyataannya.
“Gib..
ayo kejar aku haha” teriak Namira sambil terus berlari. “Namira..
udahan dulu yuk aku capek” gerutu Gibran sambil duduk diatas rumput. Namira pun berhenti entah dimana sambil
menertawakan sahabatnya Gibran.
“Ahhh.. cemen kamu, masa baru segitu aja udah capek” ledek Namira. “Rese nih kamu” Omel Gibran.
Namira terus\ menertawakan Gibran tanpa sadar
dengan posisinya saat itu, dan
tiba-tiba.... “BRUUUKKKKK!!” seketika itu Namira tergeletak tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir deras
dari kepalanya.
“Namiraaaaa!!!”
Gibran pun berteriak histeris melihat secara langsung kejadian tragis yang
menimpa sahabat terbaiknya itu. Orang-orang disekitar lokasi kejadian pun seketika berlari dan
langsung membawa Namira kerumah
sakit.
Satu bulan berlalu, Namira kini sadar dari
komanya. Namun keadaannya saat ini
sangat menyedihkan. Kini Namira tidak bisa melihat seperti waktu dulu. Matanya kini buta karena benturan yang
sangat keras dikepalanya saat
kecelakaan itu. Tetapi, keadaan
Namira yang saat ini tidak sedikitpun berpengaruh pada Gibran. Gibran tetap menjadi sahabat Namira, bahkan
sekarang dia lebih memperhatikannya.
Setiap hari Gibran berkunjung ke rumah
Namira, mengajaknya berjalan-jalan
ke taman dan menceritakan kejadian setiap harinya disekolah. Namira kini terpaksa berhenti sekolah,
memang sering Gibran menawarkan
diri untuk menjaganya disekolah, tetapi dengan keadaannya yang seperti itu selalu jawaban tidak yang Namira
berikan.
Siang itu, Namira tengah duduk sendiri
dibangku taman. Seperti biasa dia
menunggu Gibran pulang sekolah dan menceritakan kejadian-kejadiannya disekolah. “Hey Namira..” sapa
Gibran sambil menepuk pelan pundak
Namira. “Eh kamu udah pulang Gib?”
tanya Namira sambil tersenyum.
Tanpa menjawab pertanyaan Namira, Gibran pun menuntunnya berdiri dan duduk diatas rumput. “Tadi
disekolah ada anak baru loh, namanya Salsa orangnya manis, baik lagi” Gibran mulai
bercerita. Entah kenapa Namira hanya diam, dia
berpikir kalau Gibran menyukai
anak yang bernama Salsa itu.
“Hey.. kok ngelamun sih” teriak Gibran memecah keheningan.
“Eh.. gak kok, terus gimana?” gelagap Namira. “Hehe, Nam kayaknya aku suka deh sama Salsa” balas Gibran.
“Kamu
jahaaat Gib!!” teriak Namira yang tiba-tiba merusak suasana. Dia mencari-cari tongkatnya dan bergegas pergi
meninggalkan Gibran.
“Gibran
jahat! Aku pikir selama ini dia suka padaku. Ternyata dia lebih memilih orang lain dibanding aku! Lalu apa arti
dari semua perhatian yang dia
berikan selama ini padaku?!” pikir Namira dalam hati.
Tiga
bulan berlalu, semenjak kejadian itu Namira tidak lagi bertemu dengan Gibran sahabat terbaiknya. Dia sangat menyesal
telah membentaknya saat itu. Untuk
itu setiap hari dia pergi ke taman, berharap
Gibran datang dan menemuinya. Tapi, hasilnya tidak seperti apa yang Ia harapkan.
“Kamu kemana Gib.. apa kamu marah sama aku?
Atau kamu
udah sama Salsa dan lupa sama aku? Atau kamu nyesel udah ngabisin
waktu bersama gadis buta kayak aku?” ucap Namira
bertubi-tubi dengan mata yang
berkaca-kaca. Tiba-tiba...
“Namira..” panggil seseorang dibalakang
sana. Namira bisa menebak, itu suara
Mama nya. “Iya Mah, kenapa?” balas Namira. Namira bingung, tiba-tiba saja Ia merasa mendapat
pelukan hangat dari Mama nya.
“Mama kenapa, kok nangis sih?” tanya Namira
kebingungan.
“Sayang.. sebentar lagi kamu bisa melihat
seperti dulu. Ada orang yang berbaik
hati mendonorkan matanya untuk kamu, dan operasinya akan dilakukan besok nak” jawab Mama. Namira senang, tetapi disisi lain dia juga sedih. Mengapa operasinya harus berjalan besok, tak
ada hari lainkah. Dia ingin menunggu Gibran dan memberitahu kabar gembira ini.
Pagi itu di Rumah Sakit. Operasi Namira berjalan lancar. Saat ini waktunya
membuka perban Namira. Terdengar jelas
suara gunting yang memotong perban ditelinga Namira.
“Sekarang buka mata kamu pelan-pelan!”
perintah Dokter. Namira mulai membuka
matanya, awalnya memang semua terlihat kabur tetapi lama-kelamaan semuanya terlihat jelas.
“Bagaimana sayang?” tanya Mama. “Jelas Mah..” jawab Namira sedikit bergetar.
“Terimakasih Dokter” ucap Mama.
“Sama-sama. Baiklah sekarang saya permisi keluar dulu”
pamit Dokter lalu meninggalkan kamar rawat Namira.
Namira tidak sabar ingin cepat-cepat
keluar dan menikmati indahnya dunia. Tapi, dia penasaran dan
ingin tau siapakah orang yang sangat berbaik hati mendonorkan matanya untuk Namira.
“Mah, aku mau tanya siapa yang udah donorin
matanya sama aku?” tanya Namira.
“Emmm.. itu” jawab Mama gugup.
“Siapa Mah?” tanya Namira lagi.
“Lebih baik kamu baca surat ini, oh iya
Mama pergi keluar dulu yah, ada urusan sebentar” ucap Mama memberikan amplop putih polos dan bergegas
meninggalkan Namira sendirian.
Namira
mulai membuka amplop itu “Surat? Misterius sekali!” ucap Namira pelan. Namira mulai membaca surat itu..
Dear Namira,
Hai
cantik, gimana? Seneng gak bisa ngeliat lagi? Seneng dong ya pastinya,hehe. Maafin aku ya cantik, udah bikin kamu
kesel. Sebenernya gak ada cewek
yang namanya Salsa. Aku Cuma ngebohongin kamu aja, aku pengen tau gimana reaksi kamu. Aku pengen tau, kamu
jealous apa nggak.
Karena jujur, aku suka sama kamu. Dari dulu
aku mau nembak kamu, tapi aku gak
berani bilang sama kamu hehe. Untuk itu, aku ngetes kamu. Maafin aku ya cantik, maaf banget.. Maaf juga harus ninggalin kamu sendiri dan gak bisa
nemenin kamu ngeliat indahnya dunia. Waktu
itu hujan turun deras banget, aku paksain buat kerumah kamu. Tapi, mungkin takdir berkata lain.
Aku kecelakaan, aku ketabrak mobil tepat
dimana waktu itu kamu kecelakaan
juga. Dan kata Bunda, aku koma selama 3 bulan. Huhhh.. alhamdulillah
sekarang aku masih diberi kekuatan buat bangun dan nulis surat ini buat kamu. Haha.. ajaib kan? Iyadong Gibran
gitu,hehe. Eh cantik, tulisannya
beda ya? Rapi kan?
Hehe ini Bunda yang nulisin. Aku gak bisa
nulis, tangan aku diperban. Lucu
deh kayak mumi,haha. Hmmm.. cantik
aku pusing, pusing bangeeeeet! Rasanya pengen tidur lagi. Udah dulu ya, jagain mata aku tuh. Kalau nanti
aku gak bangun lagi maafin aku ya?
Dan yang perlu kamu tau aku sayang kamu. Aku seneng banget punya sahabat kayak kamu. Maafin aku ya
cantik, selamanya kita tetap
sahabat kan?
..Gibran
Adhitya Pratama..
Namira meremas surat yang Ia baca. Hatinya
terasa sakit sekali, lebih sakit
dari apapun. Air matanya sudah turun sejak tadi, sejak pertama Ia membaca surat itu.
“Kamu jahat Gib.. ninggalin aku sendiri” teriak Namira. Namira terus menangis
dan menangis, betapa hancurnya perasaan Namira saat itu. Sahabatnya pergi meninggalkan Namira selamanya.
“Makasih banyak Gib.. aku janji bakalan
jagain mata kamu. Dan aku juga seneng
banget punya sahabat kayak kamu. Tunggu aku yah, selamanya kau tetap sahabatku.
**TAMAT**
Identitas Penulis
Nama :
Ade Ayani
Alamat :
Cipongkor
Sekolah :
SMP Muslimin Cililin
Kelas :
IX